Monthly Archives: April 2013

To My Dearest Old Sport Shoes..

Saya memutuskan bahwa esok hari adalah hari resmi sepatu olah raga tua saya untuk pensiun.

Saya sangat menyukai sepatu ini. Dia sudah ‘hijrah’ bersama saya, berpindah kota. Mengalami banjir, becek, lembab, panas terik, jalan berbatu, hingga lantai licin pusat perbelanjaan. Mulai dari berwarna biru terang dan mulus, hingga ‘butek’ dan ‘belel’. Mulai dari logo bintang putih berwarna putih bersih, hingga akhirnya warna putih pudar dan berubah menjadi keabuan.

Jujur, bertahun sebelumnya saya sering mengenakannya tetapi tidak untuk berolah raga secara serius. Tetapi tetap saja, ia telah menjadi ‘kawan’ saya untuk beberapa waktu yang cukup lama.

Hingga akhirnya datang masa ketika saya mulai serius berolah raga, terutama berlari. Dimulai dari setahun yang lalu. Saya mulai banyak menggunakannya. Kali ini dalam intensitas yang lebih berat. Bisa ditebak selanjutnya. Ia mengalami gesekan keras. Sampai suatu hari akhirnya sol bagian bawah sobek dan akhirnya suatu pagi buta saya terpeleset jatuh di sebuah jalan berbatu selama berlari menuju arah pulang ke rumah.

Itu sudah terjadi sekitar beberapa minggu lalu. Sampai akhirnya saya terakhir mempergunakannya pada beberapa hari setelah tanggal ‘virtual run’ di seluruh dunia yang diadakan untuk memperingati ledakan bom yang terjadi pada lomba marathon di kota Boston.

Kemudian suatu hari saya duduk setelah pulang dari berlari. Saya angkat sepatu saya dan melihat sol bawah. Kondisinya tambah parah. Old Age it is.. Nothing can stop time..

Saya akhirnya memutuskan bahwa sepatu ini sudah waktunya ‘beristirahat’. Saya ingin memulai sesuatu yang baru lewat berlari. Entah apa. Setidaknya hal pertama yang bisa saya temukan adalah kesehatan yang lebih baik. Juga kebebasan. Mungkin? Dan yang lainnya menyusul. Mungkin.. sudah waktunya sepatu tua ini juga mendapatkan sesuatu yang baru, yaitu istirahat di tempat yang layak. Bukannya di depan teras, supaya saya ingat untuk berlari setiap saat saya ada kesempatan. Bukannya di depan teras, supaya saya melawan rasa malas saya untuk bangun pagi. Bukannya di depan teras, supaya saya kuat melawan rasa sakit dan pegal setiap kali selesai berolah raga.

Besok pagi, saya akan ‘mengembalikan’ sepatu ini ke dalam rumah. Untuk disimpan. Sudah saatnya posisinya digantikan oleh yang baru. Kalau saja saya bisa mengatakan sesuatu kepada sepatu saya, saya ingin mengucapkan terima kasih. Karena sepatu ini sudah menemani hari-hari saya berlari di pagi buta. Menemani saya berlari, baik ketika saya sedang gelisah dan tidak dalam kondisi yang enak hati, maupun ketika saya sedang dalam kondisi bersemangat. Membantu saya untuk bisa bertahan lari. Melindungi kaki saya agar tidak cedera ketika berlari. Bisa dikatakan sepatu ini adalah salah satu ‘sahabat’ yang tidak pernah protes dan mengeluh apapun, selain telpon genggam dan baju-baju berlari saya. Sekalipun dirinya sendiri sudah ‘sakit’ (sol sobek, permukaan sepatu lusuh, dll).

So, thank you, my dearest old shoes..

With respect and love..

I was always wearing you with pride and dignity..

And I’ll put you back inside the house with pride and dignity as well..

Image

Loss..

Dalam jangka waktu kurang dari seminggu kembali kami mendengar berita duka. Satu orang adalah rekan Ibu, dulu waktu Ibu masih bekerja. Untuk yang satu ini saya sempat mengenal Beliau secara pribadi. Orangnya baik dan bertanggung jawab. Almarhumah adalah seorang ibu yang baik. Tulang punggung keluarga. Pekerja keras dan cepat belajar.

Ibu sangat syok dengan berita kepergian Beliau. Dapat dipahami. Berhubung Ibu dan Beliau dulu bekerja dalam satu bagian. Satu ruangan. Satu bos. Duduk bersebelahan. Kepergian Beliau agak terlambat diketahui Ibu, karena nomor telepon genggam Ibu diganti untuk beberapa alasan khusus. Untung beberapa mantan rekan Ibu yang lain memiliki nomor-nomor kami, anak-anaknya.

Satu lagi berita kehilangan baru diterima hari ini. Yang berpulang adalah salah satu anggota keluarga dari seorang kawan. Walaupun tidak mengenal anggota keluarga Beliau secara langsung, tetapi hal ini juga membuat sedih. Saya pernah beberapa kali melihat almarhum ketika di tempat kerja, menunggu dan menemani kawan saya hingga selesai bertugas. Kawan saya ini juga seseorang yang, menurut pendapat saya pribadi, kuat. Beliau pun pernah mengalami cobaan berat sebelumnya, tetapi berhasil melewatinya dengan berkat dari Tuhan.

Rasanya ikut sedih mendengarnya. Saya turut berduka untuk Ibu dan kawan saya ini. Rasanya sedih melihat orang-orang yang pernah ‘ada’ di sekitar kita. Kata orang, “Begitulah hidup. Tidak ada yang abadi. Segala sesuatu akan kembali kepada-Nya.”

Walaupun demikian, tetap saja rasanya tidak akan pernah menjadi ‘terbiasa’ untuk mendengar kabar duka. Semoga mereka yang meninggal diberikan segala kebaikan dan diterima di sisi-Nya. Semoga untuk anggota keluarga yang ditinggalkan selalu diberikan kekuatan dan ketabahan. Amin.

 

 

 

 

 

 

The Skyscraper Hunter

The Skyscraper Hunter

On Top of The World..

On Top of The World..

Grass
imgnook.com

landscape tubes
home.comcast.net

tubes paysages
papillon1964.centerblog.net

waterfall
gxzone.com

Solid border
polyvore.com

flowerbed2
gxzone.com

Tubes paysages – Page 26
lestresorsdebouloute.centerblog.net

landscape tubes
home.comcast.net

tubes accessoires
purplefolie.centerblog.net

Flying Birds
gxzone.com

mountains
home.comcast.net

Tubes Paysages
encatimini.centerblog.net

grass 70 pct
imghouse.net

Natural Born Diver

Natural Born Diver

seaweed4.png
fotki.yandex.ru

sea plants
home.comcast.net

pelicans
imghouse.net

Mermaid
home.comcast.net

Solid border
polyvore.com

birdsLandscape Items
home.comcast.net

SUN/psd
gxzone.com

Tumblr
tumblr.com

daxa drops 13
imghouse.net

On Top of The World..

On Top of The World..

Grass
imgnook.com

landscape tubes
home.comcast.net

tubes paysages
papillon1964.centerblog.net

waterfall
gxzone.com

Tubes paysages – Page 26
lestresorsdebouloute.centerblog.net

tubes accessoires
purplefolie.centerblog.net

Flying Birds
gxzone.com

flowerbed2
gxzone.com

landscape tubes
home.comcast.net

Solid border
polyvore.com

Tubes Paysages
encatimini.centerblog.net

mountains
home.comcast.net

grass 70 pct
imghouse.net

Princess’ Silhouette

Princess' Silhouette

gold frame
bethchurch.com

FEMMES
caroladiva.centerblog.net

Epifanías
almadiana-epifanias.blogspot.com

tubes nature morte – Page 18
bagacum.centerblog.net

tubes ambiances déco
liledekahlan.eklablog.com

Epifanías
almadiana-epifanias.blogspot.com

tube accessoire – Page 12
nikkograff.centerblog.net

Epifanías
almadiana-epifanias.blogspot.com

Kehilangan.

Tanggal 5-6 april sudah dekat. Informasi akhir mengenai hasil murid kemungkinan besar sudah final dan tinggal menunggu untuk dibagikan dalam rapat guru minggu depan ini.

Belum lagi para Orang Tua murid sudah mulai banyak yang menanyakan jadwal dan jam pembagian raport. Bahkan hal ini sudah dimulai sejak minggu lalu.

Pada akhirnya saya mengirimkan SMS kolektif kepada seluruh Orang Tua murid untuk menginformasikan jadwal pembagian raport.

Tapi hari ini ada satu SMS balasan yang membuat saya sesak. Bukan sesak karena gerak. Tapi karena sedih. Salah satu murid saya baru saja kehilangan ayah karena tertimpa musibah kecelakaan.

Saya tidak tahu harus bagaimana selain mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya dan ikut mendoakan supaya keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan.

Secara realistis memang murid saya ini tidak ada hubungan darah ataupun keluarga. Tetapi bisa dibilang saya terkoneksi dengannya, karena anak ini adalah murid saya. Dapat dikatakan bahwa ada suatu perasaan ikut sedih mendengar berita tersebut. Ikut merasa kehilangan.

Anak ini notabene selalu bertemu saya setidaknya satu kali dalam seminggu, dalam kondisi normal. Bahkan beberapa bulan terakhir menjadi dua kali seminggu dikarenakan adanya Repertoire Class yang biasanya diadakan pada hari minggu.

Saya sudah mulai ‘mengenal’ anak ini. Mulai dari pola belajarnya, kebiasaan-kebiasaan yang sering dilakukan selama les, hingga pasang-surut selama setahun terutama karena anak ini sedang menginjak masa remaja (atau orang-orang sering mengatakan sebagai ‘sedang ABG’). Walaupun saya tidak mengikutinya pagi-siang-sore-malam dan barangkali tidak mengenalnya dengan amat sangat detil, tetapi saya mulai merasakan kedekatan tersendiri.

Rasanya sulit percaya, bahwa seseorang yang biasanya ‘ada’ di ‘sekitar’ kita tiba-tiba harus ‘pergi’. Saya pribadi tidak mengenal almarhum ayah murid saya ini. Tetapi sehari-hari saya sering berbincang dengan ibu murid saya ini. Yah, terkadang sekadar berbincang mengenai kemajuan (atau terkadang tidak dipungkiri, kemunduran)sang anak dalam les hari itu. Atau mungkin menginformasikan adanya repertoire class maupun libur terdekat.

Dari sekedar obrolan tersebut, saya dapat mengambil kesimpulan bahwa Orang Tua murid saya ini sangat kooperatif dan baik. Saya senang berbicara dengan si ibu, karena selalu ada feedback yang baik. Ada proses ‘take’ and ‘give’ yang baik. Sebagai wali murid sangat pengertian.

Tentu saja saya ikut bersedih untuk murid dan ibu si murid ini.

Saya jadi teringat sebuah ungkapan. Isinya kira-kira adalah bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini berubah dan tidak pasti. Satu-satunya yang pasti adalah ketidakpastian itu sendiri.

Sebuah kehilangan, menurut saya, adalah salah satu bentuk dari ketidakpastian itu. Karena kita tidak pernah mengetahui kapan dan dimana sesuatu itu akan terlepas dari kehidupan kita.

Bisa saja segala bentuk kehilangan. Kehilangan harta, kehilangan cinta, kehilangan persahabatan, kehilangan kepercayaan (terhadap orang lain maupun diri sendiri), kehilangan kesehatan, kehilangan keelokan fisik, bahkan.. kehilangan nyawa. Bisa kehilangan nyawa dari orang yang kita sayangi, ataupun.. pastinya kita sendiri suatu hari akan ‘dipanggil’ kembali ke Sang Pencipta.

Apakah kita siap kehilangan? Terkadang kehilangan sesuatu menimbulkan perasaan sedih, marah, dan lainnya. Tergantung pada kehilangan apa dan tergantung pada proses kehilangan itu.

Mungkin lebih tepatnya saya bertanya pada diri saya sendiri, apakah saya siap kehilangan? Atau, apa yang harus dilakukan atas segala ‘kehilangan’ yang sudah terjadi ataupun sedang terjadi saat ini? Jawabannya kembali ke diri masing-masing. Tidak ada yang mengetahui. Setiap dari kita memiliki cara untuk mengatasinya sendiri.

Konon spesies manusia diajarkan untuk melakukan yang dinamakan ‘belajar menerima dan melanjutkan kehidupan’. Sebuah konsep yang ideal dan kuat. Seandainya saja prakteknya semudah itu. Semoga saja setiap dari kita cukup kuat dan sebijak itu untuk berjalan ke depan.

Hari ini saya ikut merasakan berduka. Semoga murid saya ini baik-baik saja.